Lava merupakan magma yang mencapai permukaan bumi dan mengalir dari pusat erupsi. Aliran lava dapat bergerak mengikuti kondisi medan dan berpotensi merusak bangunan, lahan, maupun infrastruktur yang berada di jalurnya.

Karakter aliran lava tidak selalu sama pada setiap gunung api. Karena itu, potensi bahaya perlu mengacu pada karakter masing-masing gunung berapi dan rekomendasi PVMBG.

Aktivitas gunung api juga dapat mengeluarkan gas vulkanik. Gas tertentu dapat berbahaya bagi manusia apabila terhirup dalam konsentrasi tinggi.

Bahaya gas vulkanik menjadi salah satu alasan masyarakat tidak diperbolehkan memasuki zona tertentu di sekitar kawah, meskipun secara visual aktivitas gunung api tampak tidak terlalu besar.

Bahaya erupsi tidak selalu berhenti setelah letusan selesai. Material vulkanik yang menumpuk di lereng atau sekitar puncak dapat terbawa air hujan dan mengalir melalui lembah maupun sungai sebagai lahar hujan.

BNPB menyebut lahar hujan sebagai salah satu bahaya sekunder gunung api. Aliran ini dapat membawa material vulkanik, termasuk lumpur dan batu berukuran besar, sehingga berpotensi merusak jembatan, jalan, permukiman, serta fasilitas umum.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu di gunung api tetap perlu waspada, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Tsunami juga dapat menjadi bahaya yang berkaitan dengan aktivitas gunung api dalam kondisi tertentu, terutama apabila erupsi atau runtuhan material gunung api di wilayah laut memindahkan volume air dalam jumlah besar.

Salah satu contoh yang tercatat dalam sejarah Indonesia adalah tsunami Selat Sunda pada 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. BNPB memasukkan tsunami sebagai salah satu bahaya kolateral yang dapat dipicu aktivitas gunung api.

Namun, tsunami bukan dampak yang otomatis terjadi setiap kali gunung api meletus. Potensi terjadinya tsunami bergantung pada kondisi dan mekanisme erupsi atau runtuhan yang terjadi.

Berbagai bahaya tersebut tidak selalu muncul dengan intensitas dan pola yang sama pada setiap gunung api. Karakter erupsi dipengaruhi oleh kondisi masing-masing gunung, sehingga jenis material yang dikeluarkan, arah pergerakannya, hingga wilayah yang berpotensi terdampak dapat berbeda.

Perbedaan karakter tersebut dapat dilihat pada Gunung Bromo. Penelitian Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menjelaskan bahwa erupsi Gunung Bromo dapat bersifat efusif maupun eksplosif. Material yang dikeluarkan tim redaksi lain abu, pasir, lapili, dan bom gunung api.