NADIKABAR.COM — Aktivitas sehari-hari kini semakin banyak dilakukan dalam posisi duduk, mulai dari bekerja di depan komputer, berkendara, menonton televisi hingga menggunakan ponsel dalam waktu lama. Kebiasaan tersebut membuat seseorang menghabiskan banyak waktu dengan sedikit gerakan tubuh. Kondisi ini dikenal sebagai sedentary lifestyle atau gaya hidup sedentari.
Sedentary lifestyle tidak hanya berkaitan dengan kurangnya olahraga. Seseorang dapat saja berolahraga secara rutin, tetapi tetap memiliki perilaku sedentari apabila sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk atau berbaring dalam kondisi terjaga.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan perilaku sedentari sebagai aktivitas saat terjaga yang menggunakan energi sangat rendah, yakni 1,5 metabolic equivalents (MET) atau kurang, ketika seseorang duduk, bersandar, atau berbaring. Contohnya termasuk bekerja di depan meja, mengemudi dan menonton televisi.
Lantas, apa saja dampak sedentary lifestyle bagi tubuh?
1. Meningkatkan risiko penyakit jantung
Terlalu banyak menghabiskan waktu dalam kondisi sedentari berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Kurangnya gerakan dalam waktu lama dapat menjadi bagian dari pola hidup yang meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.
WHO menyebut tingginya perilaku sedentari pada orang dewasa berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular serta kejadian penyakit kardiovaskular.
2. Meningkatkan risiko diabetes tipe 2
Sedentary lifestyle juga berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Kurangnya aktivitas fisik membuat tubuh memperoleh lebih sedikit manfaat dari pergerakan rutin yang berperan dalam menjaga kesehatan metabolisme.