NADIKABAR.COM — Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia. Seniman sekaligus budayawan Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26/9) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun.

Kabar tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melalui keterangan tertulis pada Sabtu pagi. Guruh yang memiliki nama lengkap Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra merupakan putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati.

Kepergian Guruh bukan hanya meninggalkan keluarga dan orang-orang terdekat, tetapi juga jejak panjang di dunia seni Indonesia. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai pencipta lagu, komposer, koreografer, penata musik, hingga penggagas berbagai pertunjukan seni berskala besar.

Namanya bahkan tidak bisa dilepaskan dari upaya mempertemukan musik modern dengan kekayaan tradisi Indonesia.

Kecintaan Guruh terhadap seni sebenarnya sudah terlihat sejak masih kecil. Berdasarkan arsip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Guruh telah mempelajari berbagai tarian tradisional Jawa, Sunda, Bali, Minang, dan sejumlah daerah lain sejak usia dini.

Saat masih duduk di sekolah dasar, ia juga beberapa kali tampil di TVRI bersama kelompok musik yang dibentuknya. Ketika remaja, Guruh mulai menciptakan lagu dan pada 1965 membentuk kelompok musik The Beat-G.

Perjalanannya kemudian berkembang. Pada 1970, ia membentuk The Flower Poetman. Di waktu yang sama, Guruh juga aktif mempelajari seni tradisional, bergabung dengan kelompok gamelan Bali, mengikuti latihan teater, serta mengorganisasi kelompok angklung dan gamelan Jawa di lingkungan Perguruan Cikini.

Ketika sempat menempuh pendidikan di Universiteit van Amsterdam di Belanda pada awal 1970-an, ketertarikannya terhadap kesenian Nusantara tetap berjalan. Guruh bergabung dengan kelompok gamelan Jawa dan Bali di Tropen Museum Amsterdam, bahkan mengajar gamelan Bali dan tari Bali.

Pengalaman tersebut kemudian ikut membentuk cara pandangnya dalam berkarya, bahwa musik modern tidak harus meninggalkan kekayaan tradisi lokal.

Guruh Gipsy dan eksperimen musik yang berani

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan musik Guruh adalah lahirnya Guruh Gipsy.

Sekembalinya dari Belanda pada 1975, Guruh mulai bereksperimen memadukan gamelan Bali dengan musik Barat. Eksperimen tersebut kemudian melahirkan album Guruh Gipsy, sebuah proyek musik yang digarap bersama kelompok Gipsy.

Formasi utamanya diisi oleh Keenan Nasution pada drum dan vokal, Chrisye pada bass dan vokal, Roni Harahap pada piano dan keyboard, Oding Nasution pada gitar, serta Abadi Soesman pada synthesizer. Guruh sendiri memainkan piano dan gamelan sekaligus menggarap lirik.

Album yang kemudian dikenal dengan tajuk Guruh Gipsy itu dirilis pada 1976 dan kerap dianggap sebagai salah satu tonggak penting musik Indonesia. Proses produksinya berlangsung cukup panjang sejak 1975 hingga 1976, dengan materi seperti "Geger Gelgel", "Barong Gundah", "Smaradhana", "Indonesia Maharddhika", "Janger 1897 Saka", dan "Chopin Larung".

Menariknya, karya tersebut tidak sekadar mencampurkan bunyi gamelan dengan rock. Guruh juga membawa gagasan tentang identitas, kebudayaan, dan keresahan terhadap perubahan zaman ke dalam musiknya.

"Indonesia Maharddhika", misalnya, menjadi salah satu karya yang paling dikenal dari proyek tersebut. Sementara "Smaradhana" kemudian semakin populer lewat suara Chrisye.

Eksperimen Guruh Gipsy juga menunjukkan bahwa unsur tradisional bisa ditempatkan dalam komposisi musik modern tanpa harus kehilangan karakter aslinya.

Jejak tersebut kembali terlihat ketika Guruh Gipsy tampil di Synchronize Fest 2025. Guruh bersama Keenan Nasution dan Abadi Soesman kembali membawakan karya-karya dari proyek tersebut, termasuk "Smaradhana", "Janger 1897 Saka", "Barong Gundah", dan "Indonesia Maharddhika", dengan dukungan musisi serta seniman lintas generasi.

Momen itu sekaligus menjadi penghormatan bagi para personel Guruh Gipsy yang telah lebih dulu berpulang, seperti Chrisye, Roni Harahap dan Oding Nasution.

"Renjana" hingga "Kembalikan Baliku"