NADIKABAR.COM — Di tengah deru mesin pengeboran minyak dan eksplorasi energi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, terselip sebuah narasi keberhasilan pembangunan ekonomi kerakyatan.

Desa Pengabuan. yang selama puluhan tahun dicap sebagai lahan mati dan tercemar, bertransformasi menjadi lumbung pangan mandiri yang produktif melalui inovasi pertanian terintegrasi.

Keberhasilan ini merupakan buah manis dari sinergi antara kearifan lokal, ketekunan kelompok tani, serta dukungan penuh PT Pertamina EP Adera Field lewat program Pertanian Mandiri Desa Tangguh.

Sejarah kelam pertanian di Desa Pengabuan bermula sejak 1980-an. Saat itu, warga setempat meyakini hamparan tanah seluas belasan hektar edi wilayah tersebut sudah tidak dapat memproduksi padi akibat tercemar oleh aktivitas operasional Pertamina EP Adera. Kepercayaan ini membuat lahan tersebut dibiarkan terbengkalai selama puluhan tahun.

Namun, pada tahun 2014 muncul harapan ketika sejumlah warga mulai mengolah lahan itu. Bermodal nekat tanpa teori pertanian yang jelas, sejumlah orang itu mencoba kembali menanam padi di lahan tersebut.

Kenyataan berkata lain. Banjir yang melanda kawasan itu menghanyutkan sebagian tanaman padi ke tepi jalan raya. Di sana beberapa batang padi yang hanyat itu justru tumbuh subur dan bulir-bulirnya berisi.