Sebanyak 80 ribu unit keramik per tahun yang terdiri dari berbagai jenis piring besar, piring kecil, mangkuk, cawan, tempayan, guci dikemas dan dikirim ke ibu kota kerajaan dalam berbagai era dinasti.

Keramik-keramik itu berfungsi mulai dari hiasan di berbagai ruangan istana, keperluan ritual kerajaan hingga hadiah perkenalan bagi mitra kerajaan lain, sehingga tidak heran keramik dari Jingdezhen dapat tersebar hingga Asia Timur, Asia Tenggara, kawasan Samudra Hindia, Semenanjung Arab, Afrika hingga dan Eropa.

Pengecekan kualitas barang yang dapat dikirim ke kaisar sangat ketat, sehingga barang yang tidak lolos seleksi pun dibuang dan dipendam di berbagai lokasi dekat tungku pembakaran saat itu.

Direktur Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen, Weng Yanjun memperlihatkan keramik yang menjadi "harta karun" di museumnya, yaitu sepasang bebek berwarna dominan kuning dengan garis hitam di beberapa bagian badannya.

"Keramik ini dibuat pada masa Dinasti Ming sekitar 550 tahun lalu. Kami menyebutnya tempat pembakaran dupa berbentuk bebek dengan hiasan sancai polos. Disebut polos karena tidak menggunakan warna merah," ucap Weng.