NADIKABAR.COM — Warga dari berbagai kalangan memadati kawasan Pasanggrahan, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin (7/9/2026). Mereka datang mengikuti Tradisi Nyangku, ritual adat yang digelar setiap bulan Rabiul Awal.
Tradisi tersebut menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat Panjalu untuk mengenang sekaligus merawat peninggalan sejarah leluhur mereka.
Sejak pagi, suasana Panjalu terlihat berbeda. Sejumlah benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu diarak dari Bumi Alit, sebuah museum tempat benda-benda bersejarah itu disimpan. Arak-arakan kemudian bergerak menuju Nusa Gede, sebuah pulau yang berada di tengah Situ Lengkong Panjalu. Di tempat tersebut, rombongan melakukan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana.
Benda-benda pusaka itu dibawa menggunakan perahu sebelum akhirnya kembali menuju Pasanggrahan. Di lokasi tersebut, ritual penjamasan atau pencucian benda pusaka dilaksanakan. Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, pencucian benda pusaka kali ini digelar di Pasanggrahan. Sebelumnya, tradisi tersebut biasa dilakukan di Alun-alun Panjalu atau Taman Borosngora.
Dalam prosesi puncak Nyangku, salah satu yang menjadi perhatian adalah pedang peninggalan Prabu Borosngora, tokoh yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Panjalu dan wilayah Galuh Ciamis. Pedang tersebut dibersihkan menggunakan air Tirta Kahuripan. Air itu dikumpulkan dari sejumlah titik mata air yang berasal dari beberapa daerah.
Dalam kisah yang diwariskan secara turun-temurun, pedang tersebut merupakan salah satu cendera mata dari Sayidina Ali yang diberikan kepada Prabu Borosngora ketika belajar Islam di Mekah.
Tradisi Nyangku tidak sekadar menjadi ritual mencuci benda pusaka. Bagi masyarakat Panjalu, kegiatan tersebut memiliki makna membersihkan dan menyucikan diri. Nyangku juga menjadi bentuk penghormatan serta ucapan terima kasih kepada para leluhur, terutama Prabu Borosngora yang dipercaya membawa dan menyebarkan ajaran Islam di Panjalu.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan, tradisi nyangku menjadi sarana bagi masyarakat untuk meneladani kebaikan para leluhur.
"Tradisi nyangku ini untuk meneladani jejak kebaikan para leluhur, untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan masa kini dan masa yang akan datang," kata Herdiat.