Berdiri di lahan sekitar 1.200 meter persegi, lembaga kesejahteraan sosial (LKS) tersebut didirikan pada 2010 oleh Ropiuddin Sukarta Dirdja. Berawal dari sebuah pesantren salafiyah, yayasan tersebut berkembang menjadi tempat rehabilitasi bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa. ANTARA FOTO/Salma Talita

Para penghuni yang datang ke tempat ini membawa cerita dan kondisi yang berbeda. Sebagian masih membutuhkan pengawasan karena dapat bertindak agresif, seperti merusak fasilitas hingga memukul penghuni lain. Dalam kondisi tertentu, mereka ditempatkan di ruang terpisah dan dibatasi geraknya. ANTARA FOTO/Salma Talita

Bagi sebagian penghuni, tempat ini menjadi persinggahan sebelum mereka kembali kepada keluarga. Namun, bagi sebagian lainnya, yayasan menjadi rumah ketika keluarga tak lagi datang menjemput. ANTARA FOTO/Salma Talita

Sebagian dari mereka tetap memilih tinggal dan membantu operasional dari yayasan dalam membantu kesembuhan pasien lainnya. ANTARA FOTO/Salma Talita