NADIKABAR.COM — Di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, dampak kabut asap meluas ke sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara.
Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim pada 8 September 2026 meminta sekolah-sekolah setempat yang terdampak kabut asap ditutup demi keselamatan murid.
Pemerintah Malaysia menindaklanjuti titah tersebut. Sehari setelahnya, Menteri Pendidikan Fadhlina Sidek mengumumkan penutupan sekolah di sejumlah wilayah terdampak: Johor, Melaka, Negeri Sembilan, dan Selangor, serta wilayah federal Kuala Lumpur dan Putrajaya.
Sebelumnya pada 5 September, kabut asap juga mendorong pemerintah Malaysia menetapkan keadaan darurat di seluruh wilayah Serian, Sarawak, yang berbatasan dengan Indonesia. Namun, status tersebut tidak berlangsung lama dan kemudian dicabut.
Di Singapura, balapan Formula 1 di Marina Bay Street Circuit tetap digelar meski langit berkabut asap. Penyelenggara memutuskan tidak menunda acara tersebut.
Kabut asap akibat karhutla di Indonesia juga dilaporkan mencapai Brunei Darussalam dan Filipina, termasuk Manila, yang terletak di bagian utara negara itu.
Mengingat dampaknya yang meluas di kawasan, Indonesia terus mengintensifkan upaya penanganan karhutla di berbagai daerah, yang mencakup pengerahan personel dan armada pemadam, serta penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan.
Pemerintah RI juga mengoptimalkan mobilisasi personel lintas sektor dengan melibatkan masyarakat dan pelaku usaha, selain mengerahkan sumber daya pemerintah pusat dan daerah.
"Kami terus melakukan koordinasi, dialog, dan komunikasi dengan negara-negara tetangga agar dapat mengatasi isu ini secara bersama-sama," kata Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Vahd Nabyl A. Mulachela beberapa waktu lalu.