Salah satu hasil pentingnya adalah pengembangan Smart Factory Training Center (SFTC) di BINUS Bekasi sebagai fasilitas pembelajaran, pelatihan, dan pengembangan kompetensi di bidang manufaktur cerdas.
"Kami harap hasil dan praktek baik tidak berhenti pada kegiatan ini saja tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mempercepat proses modernisasi baik di koperasi atau UKM di Indonesia," ujarnya.
Ferry menambahkan pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mendorong koperasi dan UKM di Indonesia mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mengambil bagian dalam rantai nilai ekonomi global.
Oleh karena itu, hasil dan pengalaman dari proyek ODA ini perlu ditindaklanjuti melalui penerapan yang konkret, pengembangan sumber daya manusia, perluasan transfer pengetahuan, serta replikasi praktik-praktik terbaik yang sesuai dengan kebutuhan koperasi dan UKM.
"Kami berharap program ini bisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan agar koperasi dan UKM di Indonesia bisa berkembang. Saya juga mengucapkan selamat atas peluncuran AVITEK KUKM, semoga asosiasi ini dapat menjalankan peran strategisnya secara profesional, inklusif, dan berkelanjutan," ucapnya.
Sementara itu Senior Deputy Director International Trade and Cooperation Division, Ministry of SMEs and Startups Republik of Korea (MSS ROK) Yo Sun Woong menyampaikan program ini menjadi momentum penting untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan Korea yang telah berhasil membangun 30.000 smart factory dalam 10 tahun terakhir guna meningkatkan kualitas UKM di Indonesia.
Menurutnya Ferry, program ODA ini dinilai melampaui ekspektasi, di mana 30 koperasi lokal berhasil mengadopsi teknologi serta mampu mencetak tenaga kerja profesional dan mandiri.