NADIKABAR.COM β€” Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Arrmanatha Nasir, mendorong penguatan kerja sama Selatan-Selatan dan kerja sama trilateral untuk memperluas akses pasar global bagi pelaku ekonomi kreatif dan meningkatkan pemberdayaan kreator.

Pernyataan tersebut disampaikan Menlu Arrmanatha dalam pidatonya pada the 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis.

β€œMelalui kerja sama Selatan-Selatan dan kerja sama trilateral, kita dapat berbagi pengetahuan, membangun keterampilan, serta membantu usaha kreatif tumbuh dan menembus batas negara. Sebab, menjadi viral tidak sama dengan menembus pasar global,” katanya.

Menlu Arrmanatha menyampaikan instrumen ekonomi semakin dipolitisasi dan dijadikan senjata di tengah ketidakpastian yang semakin mendalam dan perdagangan global yang terus melambat.

Bagi negara-negara berkembang, lanjutnya, ketidakpastian ini bukanlah sesuatu yang abstrak karena merasakannya melalui gejolak nilai tukar, fluktuasi harga komoditas, serta dampaknya terhadap lapangan kerja dan penghidupan masyarakat kita.

Namun, Arrmanatha menilai bahwa ekonomi kreatif akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia berikutnya.

β€œDi tengah dunia yang penuh ketidakpastian, kreativitas adalah salah satu sumber daya kita yang paling dapat diperbarui,” ucapnya.

Selain menjalin kerja sama dengan negara Selatan-Selatan, Arrmanatha turut menyerukan pentingnya kreator melalui tata aturan kekayaan intelektual yang adil, dapat ditegakkan, dan relevan dengan perkembangan era AI.

Pemerintah juga diminta untuk menghubungkan para kreator dengan menghadirkan perjanjian perdagangan dan kerja sama ekonom yang memiliki manfaat luas bagi ekonomi kreatif.

Melalui Jakarta Vision yang akan diadopsi pada WCCE 2026, Arrmanatha kembali menegaskan bahwa Indonesia siap mengambil bagian dalam upaya melindungi gagasan para kreator, menghubungkan kreaetor dengan dunia, dan membantu kreator terus berkembang.

β€œSebab, hari ini, kekayaan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang digali dari dalam bumi, tetapi juga oleh apa yang diciptakan dari dalam pikiran. Mari kita lindungi kreativitas. Mari kita berinvestasi di dalamnya. Dan mari kita bawa karya-karya kreatif kita ke panggung dunia,” kata dia.

WCCE 2026 mengangkat tema Inclusively Creative, Collective Continuity dengan empat pilar pembahasan, yakni teknologi, kecerdasan buatan dan transformasi digital meliputi keberlanjutan dan ekonomi sirkular, kekayaan intelektual dan hak kreatif, serta inklusi, ekosistem kreatif, dan pemberdayaan komunitas.

Keempat pilar tersebut akan menjadi landasan Jakarta Vision on Creative Economy yang diharapkan memperkuat arah pengembangan ekonomi kreatif di tingkat global.

Melalui forum tersebut, Indonesia mendorong agar potensi ekonomi kreatif tidak hanya diakui sebagai bagian dari sektor budaya, tetapi juga sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan peluang usaha bagi negara-negara berkembang.