NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi (Menko Hilirisasi) sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia membuka opsi melakukan moratorium (pembatasan) pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel yang menghasilkan produk setengah jadi.
Langkah tersebut dipertimbangkan seiring meningkatnya risiko over supply nikel di pasar global, katanya saat diwawancarai wartawan di sela-sela Investor Daily Summit di Jakarta, Rabu.
Bahlil mengatakan sebagian besar smelter nikel yang beroperasi saat ini masih menghasilkan produk setengah jadi yaitu berada di kisaran 50-60 persen, sehingga kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena pasokan nikel saat ini telah melebihi kebutuhan pasar.
Ia melanjutkan, kelebihan pasokan nikel mencapai sekitar 2,5 juta ton sehingga memberikan tekanan terhadap harga nikel dunia.
"Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh. Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung," ujar Menteri Bahlil.