NADIKABAR.COM β€” Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan Indonesia tidak perlu mengimpor produk bahan bakar minyak (BBM) jika menerapkan bioetanol 50 (E50).

β€œKalau ini mampu kami lakukan ke E50, insyaallah, insyaallah target kita tidak lagi melakukan impor bensin yang jadi, produk jadi,” ujar Bahlil ketika ditemui di sela-sela acara Donor Darah Ditjen Minerba yang digelar di Jakarta, Senin.

Bahlil menyampaikan usulan E50 berangkat dari keberhasilan Indonesia menerapkan mandatori biodiesel 50 (B50). B50 merupakan campuran dari 50 persen FAME (Fatty Acid Methyl Ester) berbahan dasar minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), dengan 50 persen solar.

β€œKita pertama kali di dunia (menerapkan B50),” ucap Bahlil.

Capaian B50 menjadi dasar pemerintah mempertimbangkan penerapan E50 sebagai alternatif bensin di tengah gejolak geopolitik yang tidak menentu. Indonesia, kata dia, tidak bisa menggantungkan nasib terhadap impor energi dari negara lain.

β€œKalau ini (E20) mampu kita lakukan, itu pasti ketahanan energi kita tidak lagi menggantungkan ke luar,” ucap Bahlil.

Ia pun menyoroti bagaimana Brazil sudah menerapkan E100. Adapun bahan baku etanol yang telah dipetakan oleh pemerintah adalah tebu, singkong, dan jagung.

β€œTugas kami sekarang adalah merancang peta jalannya. Contoh, 2027 kami akan menerapkan E10, 2028 kami akan bangun E20, sampai ke depan,” kata Bahlil.