"Tadi saya dengar sebenarnya perusahaan ini sudah ada sejak tahun '49, tapi baru mulai menghasilkan produknya tahun '63, dan setelah itu cukup dinamis perkembangannya, tapi baru melesat sejak tahun 2013 dan 10 tahun terakhir booming. Di mana titik akseleratifnya? Itu justru mereka membuka diri dengan dunia luar, dengan Hyundai, dengan Mercedes-Benz," tambahnya.

Iftitah mengatakan industri tidak selalu mengenai komoditas. Akan tetapi, kata dia, bisa berdasarkan kebutuhan masyarakat.

"Dalam konteks tadi dengan penyediaan manusianya, ekosistemnya, termasuk permodalannya. Itulah yang membuat industri otomotif China ini luar biasa pesatnya. Itu bisa menginspirasi untuk kita di Indonesia juga. Bahwa industri itu tidak selalu komoditas, tapi based on apa yang dibutuhkan oleh market juga," jelas dia.

"Kenapa tidak di Indonesia juga membuat industri-industri serupa yang kita pelajari dulu prosesnya seperti apa di Tiongkok," imbuhnya.