NADIKABAR.COM — Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengunjungi BUMD Beijing di sektor otomotif, Beijing Automotive Industry Holding Co, Ltd. (BAIC). Iftitah tertarik dengan produksi yang dilakukan perusahaan ini.
Dalam kunjungan di BAIC, Beijing, China, Selasa (13/10/2026), Iftitah mulanya melihat simulasi tiga mobil sport utility vehicle (SUV) melewati jalur off-road. Tak lama kemudian, Iftitah ikut menumpangi mobil SUV simulasi jalur off-road tersebut.
Mobil mulanya melewati jalur menanjak di jalan tanah dan berbatu. Mobil juga melewati tanjakan dan turunan dengan kemiringan 45 derajat. Selain itu, mobil melaju di jalur yang dibuat seperti tangga hingga melewati air yang seolah-olah seperti sungai.
Setelah menumpangi mobil SUV simulasi di jalur off-road ini, Iftitah mendengarkan penjelasan mengenai berbagai jenis mobil yang diproduksi oleh BAIC. Iftitah terkesan dengan perkembangan perusahaan mobil milik BUMD Beijing itu.
"Saya salut dengan Tiongkok itu ya, yang saya kenal 20 tahun lalu kan mobil QQ Chery yang kecil begitu, ternyata setelah 10 tahun terakhir ini luar biasa. Tadi saya tertarik justru bukan pada produknya, saya tertarik pada prosesnya," kata Iftitah di lokasi.
Iftitah mengatakan Indonesia perlu belajar dari China mengenai pengembangan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, investasi dalam pengembangan SDM akan mampu menghasilkan produk unggulan.
"Saya tadi mendengar banyak masukan, nomor satu mereka berorientasi kepada manusianya, itulah kenapa mereka investasi besar-besaran kepada sumber daya manusianya. Kedua adalah modal usaha, nah modalnya itu mereka gotong royong, iuran. Yang menarik, BAIC ini adalah BUMD, makanya BAIC itu adalah Beijing Automotive Industry Company, jadi BUMD-nya kalau kita DKI Jakarta-lah," tutur dia.
Selain itu, Iftitah terkesan oleh riset yang dilakukan China. Iftitah mengatakan butuh waktu puluhan tahun agar produk mobil milik BUMD Beijing itu dikenal oleh dunia internasional seperti saat ini.
"Mereka saling support untuk invest karena mereka tahu untuk membuat kendaraan yang bagus itu butuh waktu, butuh riset, dan butuh manusia yang unggul. Mereka invest di sana," kata dia.
"Tadi saya dengar sebenarnya perusahaan ini sudah ada sejak tahun '49, tapi baru mulai menghasilkan produknya tahun '63, dan setelah itu cukup dinamis perkembangannya, tapi baru melesat sejak tahun 2013 dan 10 tahun terakhir booming. Di mana titik akseleratifnya? Itu justru mereka membuka diri dengan dunia luar, dengan Hyundai, dengan Mercedes-Benz," tambahnya.
Iftitah mengatakan industri tidak selalu mengenai komoditas. Akan tetapi, kata dia, bisa berdasarkan kebutuhan masyarakat.
"Dalam konteks tadi dengan penyediaan manusianya, ekosistemnya, termasuk permodalannya. Itulah yang membuat industri otomotif China ini luar biasa pesatnya. Itu bisa menginspirasi untuk kita di Indonesia juga. Bahwa industri itu tidak selalu komoditas, tapi based on apa yang dibutuhkan oleh market juga," jelas dia.
"Kenapa tidak di Indonesia juga membuat industri-industri serupa yang kita pelajari dulu prosesnya seperti apa di Tiongkok," imbuhnya.