Menurut Iftitah, beras utuh berkualitas premium hasil pemilahan memiliki harga jual Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram, dibandingkan harga sebelumnya sekitar Rp12.000 per kilogram.
Beras menir pun memperoleh jalur pemanfaatan baru. Jika sebelumnya dijual sebagai pakan ternak seharga Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram, menir kini diolah menjadi tepung beras dengan harga jual sekitar Rp18.000 per kilogram. Perbedaan harga tersebut merupakan nilai jual produk sebelum memperhitungkan biaya pengolahan.
Pengolahan tepung beras dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat dan diarahkan untuk memasok kebutuhan UMKM, termasuk pembuat peyek dan kue. Usaha tersebut telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Dengan demikian, hasil panen dapat menjadi bahan baku usaha pangan lokal sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.
Iftitah berharap rangkaian inovasi tersebut membuat masyarakat transmigrasi semakin berdaya, memperoleh pendapatan lebih baik, dan memiliki lebih banyak kesempatan kerja.
Selain pengolahan padi, TEP ITS menghadirkan teknologi untuk menjawab kebutuhan pertanian, perikanan, dan layanan dasar. Di antaranya, reaktor biogas dengan hasil samping pupuk organik cair yang dilaporkan mencapai 50 liter per hari, serta teknologi pengasapan ikan yang memangkas waktu produksi dari dua hari menjadi maksimal dua jam.