"Untuk bentuk arca memang belum ditemukan, tetapi yang memiliki kemiripan dengan jejak peradaban ada di Situs Hulu Dayeuh. Itu menjadi salah satu lokasi yang menunjukkan adanya perjalanan sejarah masa kerajaan," katanya.

Selain Situs Hulu Dayeuh, Gunung Cingkir juga menjadi salah satu objek yang menarik perhatian. Di kawasan tersebut terdapat sebuah batu yang memiliki tulisan beraksara Cina.

Temuan itu memiliki keterkaitan dengan perkembangan peradaban Islam dan menjadi bagian dari kajian sejarah yang hingga kini terus didalami.

"Kalau Gunung Cingkir berupa batu, di dalam batu itu ada tulisan Cina. Itu berkaitan dengan peradaban Islam dan masih menjadi bagian dari kajian sejarah," jelas Iman.

Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Cirebon tidak berdiri pada satu periode saja. Berbagai lapisan perjalanan peradaban meninggalkan jejak yang tersebar di tengah masyarakat dan sebagian di antaranya masih membutuhkan penelitian lebih mendalam untuk mengungkap cerita di baliknya.

Ia mengatakan, pendataan ODCB menjadi langkah awal untuk memastikan jejak-jejak sejarah tersebut tidak hilang begitu saja akibat perkembangan zaman. Terlebih, sebagian objek berada di lingkungan masyarakat dan berpotensi mengalami perubahan apabila tidak segera didata dan dilindungi.

Iman mengatakan, pendataan dan kajian terhadap ODCB akan terus dilakukan. Proses tersebut menjadi bagian penting sebelum sebuah objek dapat ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

"Pendataan terus dilakukan. Kita ingin objek-objek yang memiliki nilai sejarah dan budaya bisa diketahui, dikaji, kemudian apabila memenuhi ketentuan dapat ditetapkan sebagai cagar budaya," ujarnya.