Olah rasa juga perlu mendapat tempat bersama kegiatan menjaga raga. Ruang bermain, olahraga bersama, jalan kaki, dan kerja bakti memberi kesempatan kepada warga untuk berjumpa di luar layar. Perjumpaan itu penting karena seseorang lebih mudah dipahami ketika kita mengenal kehidupan yang dijalaninya.
Contoh yang menarik pernah diperkenalkan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui kegiatan Sapa Aruh pada 2024. Konsepnya memadukan kegiatan pada car free day dengan ruang aspirasi warga, melalui semangat nyehatke, ngrungoke, nguwongke: menyehatkan, mendengarkan, dan memanusiakan.
Pendekatan tersebut dapat dikembangkan di tingkat kampung dan kalurahan. Kegiatan olahraga pagi bisa diikuti percakapan terbuka mengenai persoalan lingkungan. Kerja bakti dapat disambung dengan pembahasan pengelolaan sampah. Pertunjukan seni warga dapat menyediakan ruang bagi anak muda untuk menyampaikan gagasan.
Syaratnya, percakapan tersebut harus memiliki tindak lanjut. Keluhan perlu dicatat, pihak yang bertanggung jawab ditentukan, dan perkembangannya disampaikan kembali. Warga membutuhkan pengalaman bahwa berbicara secara baik-baik menghasilkan sesuatu.
Di sinilah hubungan antara pelayanan publik dan kesehatan ruang digital menjadi jelas. Ketika aspirasi memperoleh jawaban melalui pertemuan langsung, warga memiliki pilihan selain membuat kegaduhan. Sebaliknya, forum yang hanya menampung keluhan tanpa penyelesaian akan menambah kekecewaan.
Langkah berikutnya adalah membawa pengalaman baik itu ke ruang digital melalui konten yang menarik dan dapat dipercaya.
Arah ini memiliki rujukan. Dalam siaran pers Oktober 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital menghubungkan literasi digital, produksi konten positif, serta kerja sama dengan lembaga budaya sebagai bagian dari penguatan karakter dan identitas budaya.
Penerapannya perlu dekat dengan keseharian. Anak muda dapat dilibatkan membuat video tentang sejarah kampung, mendokumentasikan permainan tradisional, mewawancarai perajin, atau menjelaskan persoalan lingkungan. Cerita mengenai petugas kebersihan, pengelola perpustakaan kampung, dan warga yang merawat sungai juga layak mendapatkan perhatian.
Produksi konten tersebut membutuhkan pendampingan. Kampus, komunitas kreatif, seniman, dan pemerintah daerah dapat membuka kelas kecil tentang penulisan cerita, pengambilan gambar, pemeriksaan fakta, serta izin penggunaan foto. Peserta sebaiknya menghasilkan karya yang benar-benar diterbitkan dan dibahas bersama.
Konten sehat pun perlu dimaknai secara luas. Kritik berbasis data terhadap pelayanan publik termasuk di dalamnya. Begitu pula penjelasan mengenai cara mengajukan pengaduan, mengenali penipuan, atau memeriksa kebenaran sebuah kabar. Mutunya terletak pada ketepatan informasi, penghormatan terhadap martabat manusia, dan manfaatnya bagi pembaca.