Satriadi mencontohkan, jika ada masyarakat yang sakit kemudian bernazar untuk menyerahkan seekor kerbau pada Mulud Adat. Ketika orang tersebut sembuh, maka nazar tersebut wajib dibayarkan ketika Mulud Adat.

"Saking banyaknya orang bernazar, setiap tahun itu sampai beratus-ratusan orang yang membawa ternak, seperti ayam, kambing, kerbau, sapi, belum lagi beras, ketan, uang bolong, dan uang rupiah," jelas Satriadi.

Semua bahan pokok dan hewan ternak yang dibawa tersebut diolah dengan cara gotong royong di komplek rumah adat baik di Desa Karang Bajo maupun di Desa Bayan sendiri. Olahan makanan tersebut nantinya akan dinikmati bersama seusai ritual puncak pada tradisi Mulud Bayan.

"Bahan-bahan tersebut dibawa oleh masyarakat secara swadaya. Kemudian diolah, dipotong, kemudian dibersihkan dan dimasak secara gotong royong. Nanti makannya pun kami makan bersama," imbuh Satriadi.