Tekanan Mercedes tidak hanya datang dari tingginya biaya produksi di dalam negeri. Kebangkitan produsen China, turut mengubah peta persaingan industri otomotif global.
Merek seperti BYD, Geely, GAC, dan Changan menawarkan kendaraan dengan harga yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan banyak merek tradisional Eropa.
Dampaknya terlihat jelas di China. Penjualan Mercedes pada kuartal kedua anjlok 30 persen, sementara perusahaan mencatat kerugian sekitar 800 juta dolar AS di pasar tersebut.
Di sisi lain, tarif perdagangan turut memperberat tekanan. Mercedes mencatat kerugian sekitar 1,1 miliar dolar AS, akibat tarif Amerika Serikat sepanjang 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi Mercedes bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga kemampuan mempertahankan struktur produksi di tengah perubahan peta persaingan otomotif dunia.