NADIKABAR.COM — Sepuluh kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah melakukan berbagai upaya untuk memperluas jangkauan pendidikan di daerah. Para kandidat menjadi penggerak pendidikan untuk anak di daerah tertinggal hingga mendirikan sekolah alam.
Sebanyak 10 kandidat ini telah ditentukan oleh panitia seleksi DPD Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.
Panitia kemudian menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Pada kategori bidang pendidikan ini, penghargaan akan diberikan kepada individu yang memiliki dedikasi dan berkontribusi dalam pendidikan nonformal.
"Penghargaan diberikan kepada Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat," tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat NadiKabar, Rabu (7/10/2026).
Berikut sosok kandidat Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah yang diurutkan berdasarkan abjad:
Afakhrul Masub Bakhtiar adalah kandidat asal Gresik, Jawa Timur. Afakhrul menjadi pendiri Sekolah Ndeso, di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 2017. Sekolah Ndeso menerapkan model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi pada masa depan.
Sekolah Ndeso bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praksis atau pelaksanaan suatu teori ke dalam bentuk tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.
Filosofi Sekolah Ndeso sederhana tapi mendalam: dari akar lahir harapan, dari harapan tumbuh masa depan yang bermartabat. Landasan pembelajaran Sekolah Ndeso adalah metode TAR (Tumbuhkan, Alami, Rayakan).
Konsep belajar Sekolah Ndeso menyentuh empat dimensi utama: Laku sebagai praktik nyata budaya pangan, Ingatan yang memperkuat memori kolektif, Doa yang menanamkan nilai syukur, serta Inovasi yang menjembatani tradisi dengan kreasi generasi muda.
Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018. Literasi Anak Banua berfokus pada pemberdayaan anak serta pemuda adat melalui pendidikan di wilayah terpencil Kalimantan Selatan (Kalsel).
Pendirian Literasi Anak Banua berangkat dari persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat serta kerentanan terhadap perubahan iklim.
Sejumlah program pun dikembangkan, di antaranya bimbingan belajar dan literasi-numerasi, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.
Program-program itu menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender dan pemecahan masalah lingkungan. Praktiknya melibatkan pelajar-guru, pemuda adat, komunitas lokal serta berbagai mitra seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, hingga Rockefeller Foundation.
Egi Trialogi merupakan seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar). Dia mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja di Majalengka.
Lewat Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan. Dia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal guna memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi.
Egi membuka dan menggerakkan usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik dengan bimbingan operasional, pelayanan, dan keuangan. Berikut ini unit usaha yang dikelola dan dijalankan anak didik Egi Trialogi: