Beras menir pun memperoleh jalur pemanfaatan baru. Jika sebelumnya dijual sebagai pakan ternak seharga Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram, menir kini diolah menjadi tepung beras dengan harga jual sekitar Rp 18.000 per kilogram. Perbedaan harga tersebut merupakan nilai jual produk sebelum memperhitungkan biaya pengolahan.
Pengolahan tepung beras dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat dan diarahkan untuk memasok kebutuhan UMKM, termasuk pembuat peyek dan kue. Usaha tersebut telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Dengan demikian, hasil panen dapat menjadi bahan baku usaha pangan lokal sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.
Iftitah berharap rangkaian inovasi tersebut membuat masyarakat transmigrasi semakin berdaya, memperoleh pendapatan lebih baik, dan memiliki lebih banyak kesempatan kerja.
Selain pengolahan padi, TEP ITS menghadirkan teknologi untuk menjawab kebutuhan pertanian, perikanan, dan layanan dasar. Di antaranya, reaktor biogas dengan hasil samping pupuk organik cair yang dilaporkan mencapai 50 liter per hari, serta teknologi pengasapan ikan yang memangkas waktu produksi dari dua hari menjadi maksimal dua jam.
Untuk kebutuhan rumah tangga, tim membangun instalasi pompa air bersih beserta menara tandon yang melayani 35 keluarga. Tim juga mengembangkan situs promosi dan aplikasi administrasi BUMDes guna membantu pemasaran produk serta pencatatan usaha.