Selain produk fesyen, Jawa Timur juga membawa sejumlah pemasok logistik yang telah memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan musim haji tahun ini.
"Kami juga membawa pemasok logistik yang pada musim haji tahun ini telah mendapatkan kesempatan. Mudah-mudahan kemitraan, kerja sama, dan penguatan pasokan logistik dari Jawa Timur dapat terus ditingkatkan," katanya.
Khofifah menegaskan penguatan kerja sama dengan Arab Saudi turut ditopang oleh ekosistem halal Jawa Timur yang telah melibatkan berbagai sektor dan pemangku kepentingan.
Jawa Timur memiliki Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS) serta pengembangan kawasan industri halal sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem industri halal dari hulu hingga hilir.
Selain kawasan industri halal, Jawa Timur juga memiliki 15 Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) di luar LPH LPPOM, LPH Sucofindo, dan LPH Surveyor Indonesia yang memiliki kantor cabang di Surabaya. Ekosistem tersebut diperkuat oleh 85 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) dan 16.424 Pendamping Proses Produk Halal (PPH).
Infrastruktur pendukung halal juga mencakup keberadaan laboratorium halal, 196 Rumah Potong Hewan (RPH) halal, serta sekitar 348.010 penyelia halal.
"Ekosistem halal ini penting karena yang kita tawarkan bukan sekadar produk. Kita ingin membangun rantai nilai yang didukung kawasan industri, proses produksi, sertifikasi, sumber daya manusia, hingga distribusi," jelasnya.
Khofifah menilai perkembangan ekosistem halal Jawa Timur dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan Arab Saudi. Kerja sama tersebut mencakup sektor pangan, produk olahan, jasa, logistik, pariwisata, hingga berbagai kebutuhan pendukung perjalanan serta penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
"Penguatan industri halal di Jawa Timur, insyaallah, akan mendukung rantai pasok logistik pada musim haji. Ke depan, peluang ini juga dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan musim umrah, termasuk pada bulan Ramadan dan periode lainnya," tuturnya.
Berdasarkan data BPS Jawa Timur Agustus 2026, perekonomian Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar 25,40% terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 14,34% terhadap perekonomian nasional.
Pada Triwulan II 2026, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur atas dasar harga berlaku mencapai Rp930 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp538,59 triliun.
Struktur tenaga kerja juga menunjukkan besarnya basis ekonomi Jawa Timur, dengan sekitar 3,58 juta tenaga kerja di sektor industri, 4,56 juta di sektor perdagangan, dan 7,77 juta di sektor pertanian.
"Basis industri dan pertanian ini memberikan ruang yang besar untuk membangun rantai pasok produk dari Jawa Timur. Apalagi Jawa Timur juga menjadi simpul distribusi menuju kawasan Indonesia Timur," kata Khofifah.
Menurutnya, posisi strategis tersebut menjadi modal untuk memperkuat kerja sama dengan pelaku usaha Arab Saudi, tidak hanya melalui perdagangan produk jadi, tetapi juga investasi, kemitraan industri, pengembangan kawasan, hingga integrasi rantai pasok.
Hubungan antara Jawa Timur dan Arab Saudi juga memiliki peluang pengembangan rantai pasok yang didukung oleh tingginya mobilitas masyarakat Indonesia menuju Tanah Suci.