NADIKABAR.COM — Kecoak kerap menjadi bahan cerita tentang hewan yang sulit mati. Salah satu klaim paling terkenal menyebut serangga ini masih dapat hidup meski kepalanya sudah terputus.

Klaim tersebut memiliki dasar ilmiah.

Tubuh kecoak yang kehilangan kepala tetap dapat menjalankan beberapa fungsi fisiologis dan gerakan motorik untuk sementara waktu. Namun, kecoa tidak dapat hidup normal tanpa kepala. Tubuhnya kehilangan kemampuan makan dan menghadapi risiko dehidrasi serta infeksi.

Mengapa kecoak tidak langsung mati setelah kepalanya terpisah? Berikut rangkumannya yang dihimpun NadiKabar dari sejumlah studi literatur, Selasa (8/9/2026).

Bnar, tetapi hanya untuk sementara.

Kecoak dapat bertahan setelah kehilangan kepala karena beberapa fungsi penting tubuhnya tidak bergantung pada kepala.

Kecoak tidak menggunakan paru-paru untuk bernapas. Serangga memiliki sistem pernapasan berupa spirakel dan trakea yang memungkinkan oksigen mencapai jaringan tubuh. Sistem sarafnya juga tidak hanya bergantung pada otak di kepala. Sejumlah pusat saraf atau ganglia terdapat di bagian tubuh lainnya.

Penelitian pada kecoa menunjukkan setelah kepala dipisahkan, tubuh tetap dapat menukar gas. Studi terhadap Nauphoeta cinerea menemukan pertukaran gas terus berlangsung karena ganglia di toraks dan abdomen tetap menghasilkan pola napas. Dengan kata lain, kehilangan kepala tidak otomatis menghentikan seluruh fungsi tubuh kecoa.

Namun, ada bedanya tim redaksi bertahan hidup secara fisiologis dan hidup normal.

Kecoak tanpa kepala tidak lagi memiliki mulut untuk makan. Ia juga kehilangan berbagai fungsi sensorik dan pengaturan perilaku yang bergantung pada kepala. Kondisi ini membatasi kemampuannya untuk bertahan lama.

Ada beberapa karakteristik biologis yang menjelaskan fenomena tersebut.

Kecoak tidak bergantung pada mulut atau hidung untuk mengambil oksigen.

Pada tubuh serangga terdapat lubang-lubang kecil yang disebut spirakel. Spirakel terhubung dengan sistem tabung bernama trakea yang membawa udara menuju jaringan tubuh.

Sistem ini berbeda dengan manusia. Pada manusia, oksigen masuk melalui saluran pernapasan menuju paru-paru, kemudian diedarkan melalui darah. Pada serangga, trakea menyalurkan oksigen langsung ke jaringan. Lantaran sebagian besar sistem pernapasan berada di tubuh, kehilangan kepala tidak menghentikan pertukaran gas.

Penelitian fisiologi pada kecoak menyimpulkan pola pertukaran gas terus berlangsung setelah kepala terpisah dari tubuh. Jadi, bukan karena kecoak "tidak membutuhkan kepala untuk hidup". Pernapasan-fungsi yang sangat penting-tidak bergantung pada kepala dengan cara yang sama seperti pada manusia.

Kecoa memiliki otak. Anggapan bahwa kecoak tidak punya otak salah. Hal yang berbeda adalah organisasi sistem sarafnya.

Pada serangga terdapat kumpulan jaringan saraf yang disebut ganglia di berbagai bagian tubuh. Ganglia pada toraks dan abdomen mengendalikan sejumlah fungsi motorik.

Penelitian pada Periplaneta americana mengungkapkan pusat saraf di toraks tetap mendukung aktivitas lokomosi meskipun koneksi dengan ganglia kepala diputus. Penelitian lain menjelaskan sejumlah aktivitas motorik kecoa berasal dari tingkat toraks tanpa masukan langsung dari ganglia kepala.

Namun, ganglia kepala tetap berperan dalam pengaturan perilaku dan koordinasi. Sebab itu, tubuh kecoak yang kehilangan kepala masih menghasilkan gerakan tertentu. Gerakan tersebut tidak boleh disamakan dengan kemampuan berjalan normal.

Ya, tetapi gerakannya tidak normal.

Penelitian terhadap sistem saraf dan lokomosi kecoak mengungkapkan tubuh tanpa kepala masih menghasilkan aktivitas motorik. Pusat saraf di bagian toraks mempertahankan pola gerakan tertentu.