Pendampingan ini diikuti 20 mama-mama dari Satuan Permukiman (SP) 1 dan 2 Tamoge, Kawasan Transmigrasi Werianggi. Lokasinya sekitar empat jam dari Wasior, kota terdekat, dan belum ada sosialisasi maupun pendampingan pengelolaan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (LH).
Para Mama memanfaatkan sampah dapur seperti kulit buah dan potongan sayur sebagai bahan ekoenzim. Mereka melarutkan 100 gram gula merah dalam 1 liter air, lalu mencampurnya dengan 300 gram limbah organik yang telah dipotong kecil.
Campuran kemudian disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat teduh selama tiga bulan, dengan tutup sesekali dibuka untuk mengeluarkan gas. Hasilnya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman, membersihkan lantai, dan mengurangi bau tempat sampah.
Sampah organik yang tidak dapat dijadikan ekoenzim dicampur daun kering menjadi kompos.
Kini, para Mama mulai menanam cabai, tomat, terong, dan sawi di pekarangan masing-masing tanpa bergantung pada pupuk dan pestisida kimia yang mahal.
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya kemandirian pupuk dalam mendukung swasembada pangan nasional.