Namun, tidak ada CEO perusahaan China dalam delegasi Xi, ungkap dua sumber kepada AFP, meskipun para petinggi teknologi AS--termasuk pemimpin perusahaan--perusahaan AI terkemuka--dijadwalkan hadir dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih.

Kunjungan Xi akan berakhir pada Jumat (25/9), saat kedua pasangan presiden menikmati jamuan teh di Gedung Putih dan kemudian mengunjungi Arsip Nasional, tempat penyimpanan dokumen Deklarasi Kemerdekaan AS.

Saat kedua pemimpin duduk untuk melakukan pembicaraan yang sangat dinanti-nantikan, mereka akan menghadapi berbagai isu pelik. Salah satu yang utama adalah kekhawatiran--yang diperkuat oleh peringatan dari para CEO teknologi--bahwa AI berisiko memusnahkan umat manusia.

Namun, di tengah persaingan antara China dan Amerika Serikat untuk meraih supremasi AI, kecil kemungkinan akan tercapai kesepakatan untuk mengatur teknologi yang berkembang pesat ini.

Pembicaraan awal antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan mitranya dari China, He Lifeng, mencakup pembahasan mengenai pembentukan saluran komunikasi khusus untuk membahas kekhawatiran terkait AI. Kedua pria tersebut mengadakan pembicaraan "substansial" lebih lanjut pada hari Rabu untuk mempersiapkan kunjungan Xi, kata Bessent dalam sebuah pernyataan.

Perang dagang yang masih membara antara dua ekonomi terbesar dunia juga akan menjadi sorotan utama, di mana kedua belah pihak mempertimbangkan untuk memperpanjang gencatan senjata tarif yang disepakati saat Trump dan Xi bertemu di Korea Selatan tahun lalu.

Jonathan Czin dari Brookings Institution mengatakan kepada AFP bahwa harapan akan hasil konkret dari pertemuan itu kecil, namun "saya rasa akan ada perpanjangan dari kesepakatan informal (gentleman's agreement) tersebut."