NADIKABAR.COM — Pelaku usaha dari Mongolia ingin memperluas kerja sama di bidang farmasi hingga energi dengan Indonesia.

"Kami melihat adanya peluang untuk memperluas kerja sama di bidang farmasi, manufaktur terkait kesehatan, barang konsumsi, dan produk pangan maupun peluang menjanjikan di sektor-sektor yang berorientasi masa depan, seperti energi terbarukan, teknologi hijau, dan efisiensi energi," kata Presiden Kamar Dagang dan Industri Nasional Mongolia (Mongolian national Chamber of Commerce and Industry atau MNCCI) Baatarjav Lkhagvajav di Ulan Bator, Mongolia pada Selasa.

Baatarjav mengungkapkan hal tersebut dalam forum bisnis yang bertajuk "70 years of Partnership: A New Era of Cooperation" yang dihadiri sekitar 35 pelaku usaha baik dari Indonesia maupun Mongolia secara langsung maupun daring.

Mongolia dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik sejak 21 Desember 1956 dan memperingati 70 tahun hubungan diplomatik pada 2026.

"Saat ini, daya saing bisnis global tidak lagi semata-mata ditentukan oleh biaya produksi yang rendah. Faktor-faktor seperti teknologi, efisiensi energi, standar lingkungan, keandalan rantai pasok, dan produksi berkelanjutan menjadi semakin penting," ungkap Baatarjav.

Perkembangan tersebut menurut dia menciptakan peluang baru bagi kerja sama antara perusahaan Mongolia dan Indonesia.

"Tahun ini menandai peringatan 70 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara Mongolia dan Republik Indonesia. Selama 70 tahun terakhir, hubungan persahabatan antara kedua negara kita telah berkembang secara stabil di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, budaya, hingga kemanusiaan," tambah Baatarjav.

Baatarjav mengungkapkan meski Mongolia dan Indonesia terpisah jarak geografis yang jauh, perekonomian kedua negara memiliki potensi besar untuk saling melengkapi.