Ia berharap kesepakatan tersebut menjadi fondasi untuk memperkuat kemitraan di bidang pendidikan Islam, memperluas peluang penyiapan kader-kader ilmiah, serta mendorong pertukaran pengalaman dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern.

Selain itu, MoU itu akan menjadi payung kerja sama yang mencakup pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Meski berorientasi pada pendidikan tinggi, kerja sama juga berpeluang dikembangkan ke jenjang pendidikan dasar dan bidang lain yang relevan.

Menurut Suyitno, MoU itu juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Mesir, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi.

Dalam pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi beberapa waktu lalu, terdapat penekanan agar Indonesia mendapat ruang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan di Al-Azhar. Peluang tersebut tidak terbatas pada studi keislaman, tetapi juga mencakup sains, kedokteran, dan disiplin ilmu lainnya.

Sejumlah skema kerja sama akademik tengah dijajaki, termasuk program gelar ganda (double degree) dan pembelajaran daring. Salah satu opsi yang dibahas adalah skema pendidikan sarjana selama empat tahun, dengan dua tahun perkuliahan di Indonesia dan dua tahun berikutnya di Al-Azhar, Mesir.