NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyatakan beban kerja domestik dan pengasuhan yang ditanggung perempuan perlu diperhitungkan dalam penyusunan kebijakan ekonomi.

Menurut dia, selama pekerjaan domestik dan pengasuhan dianggap semata-mata sebagai urusan pribadi perempuan, ketidakadilan struktural akan terus berulang.

"Kerja perawatan menopang keluarga, dunia kerja, dan perekonomian sehingga harus diperhitungkan dalam penyusunan kebijakan," ucap Rerie (sapaan akrabnya) dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu.

Pernyataan tersebut disampaikan Lestari Moerdijat merespons hasil riset Populix bertajuk "Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi".

Riset itu mencatat perempuan di rumah tangga urban mengalokasikan 252 jam lebih banyak untuk pekerjaan domestik dalam setahun dibandingkan laki-laki. Selisih tersebut setara dengan sekitar 31 hari kerja, dengan asumsi delapan jam kerja per hari.

Berdasarkan survei daring terhadap 1.000 rumah tangga urban pada Maret-April 2026, perempuan menghabiskan rata-rata tiga jam 14 menit per hari untuk pekerjaan domestik atau sekitar 27 persen lebih lama dibandingkan laki-laki.