Gasperini konsisten menerapkan skema tiga bek dengan garis pertahanan tinggi. Karakter pressing ketat hingga ke area lawan membuat siapapun bakal kerepotan membangun alur serangan.
Skema agresif itu bahkan nyaris menumbangkan sang raja Eropa, Real Madrid, di Olimpico. Roma sempat unggul 3-1 sebelum akhirnya stamina mereka kedodoran di sepuluh menit terakhir laga.
Intensitas tinggi tersebut memang memakan korban pada kebugaran skuad utama. Cedera melanda Dybala, Manu Kone, hingga Lorenzo Pellegrini, memaksa Gasperini merotasi susunan pemain inti.
Meski begitu, celah yang ditinggalkan MU tetap menjadi santapan empuk bagi taktik Roma. Cara Como mengacak-acak half-space Setan Merah adalah resep yang sudah matang di tangan Gasperini.
Rekor historis memang masih memihak sang tuan rumah secara meyakinkan. Dari delapan pertemuan, MU sukses mengemas lima kemenangan sementara Roma baru meraih dua hasil sempurna.
Old Trafford pernah menjadi saksi pembantaian 7-1 pada 2007 serta kemenangan 6-2 pada 2021 lalu. Namun masa lalu yang megah tak bisa terus dijadikan tameng di tengah performa yang kian layu.
Takdir menggelar ironi yang cukup menyayat bagi karir kepelatihan Carrick. Ia adalah pencetak dua gol saat MU membantai Roma 7-1, dan kini nasib jabatannya justru dipertaruhkan di hadapan lawan yang sama.
Satu-satunya jalan selamat bagi Carrick adalah menurunkan ego taktisnya secara dramatis. Memaksa pressing tinggi tanpa jangkar di tengah hanya akan mempermudah Roma mengeksploitasi ruang kosong.
Serigala Roma datang dengan lapar kemenangan, sementara sang raksasa bertahan dengan sisa-sisa kejayaan. Dan, di panggung sebesar Liga Champions, memori manis tidak akan pernah cukup untuk menyelamatkan takhta.