Mereka menemukannya, tetapi tantangan berikutnya adalah menemukan para penyintas.

"Kami tahu mereka berada di depan, tetapi kami tidak tahu persis di mana. Jadi kami harus mulai menggali ke arah yang benar. Dan kami menyimak apakah bisa mendengar seseorang," katanya.

Tim SAR harus menembus terowongan yang sepenuhnya tersumbat lumpur dan batu, beberapa di antaranya lebih besar dari mobil. Mereka juga harus menggunakan bahan peledak untuk membuka jalan.

"Kami harus menggunakan bahan peledak yang biasanya tidak pernah kami lakukan karena risiko meledakkan orang-orang [yang terjebak di dalam terowongan] dan juga membahayakan diri kami sendiri," kata Dix.

Longsoran es, bebatuan, dan lumpur menyapu area lembah di wilayah Nepal yang berbatasan dengan Tibet, China, pada Rabu (26/8) pekan lalu. Para pejabat dan petugas penyelamat meyakini bahwa runtuhnya gletser di bagian hulu Sungai Trishuli pada 26 Agustus lalu, telah membuat setidaknya 900 orang terjebak di dalam terowongan yang terkait dengan enam proyek PLTA di sepanjang sungai tersebut.

Sedikitnya 1.252 orang tewas di wilayah Nepal, saat rumah-rumah, jalanan, dan sekolah di berbagai kota serta desa yang terletak di perbatasan dengan wilayah Tibet diterjang banjir bandang dahsyat. Lebih dari 4.200 orang lainnya dinyatakan masih hilang dan ribuan orang lainnya terpaksa mengungsi.

Otoritas China mencatat jumlah korban tewas di Tibet mencapai sedikitnya 21 orang, dengan sebanyak 541 orang lainnya dinyatakan hilang.