"Pria yang diikuti Eyang Raden Santri itu, kita prediksi adalah Wali Songo. Entah Sunan Kalijogo, entah Sunan Giri," imbuhnya.
Kemudian Eyang Raden Santri pulang dan menyebarkan agama Islam di kampungnya. Hal itu lah yang membuat sosok legenda urban itu dihormati, bahkan ketika makamnya masih ada, banyak yang ziarah.
"Saya dulu pernah nyadran (ziarah), makamnya cukup besar. Sebelum orang-orang ke masjid, di situ juga untuk topobroto. Yang berziarah orang dari mana-mana," ucapnya.
Sejarah soal pembangunan Waduk Gajah Mungkur (WGM) tersimpan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri. Dikutip dari laman resmi Disarpus Wonogiri, disebutkan WGM dibangun tahun 1974-1981.
Dari data spesifikasi proyek, disebutkan luas genangan di WGM mencapai sekitar 8.800 hektar. Kemudian dalam pembangunannya ada pembebasan lahan 10.516 hektar dengan menenggelamkan 51 desa di 7 kecamatan di Wonogiri.
Pembangunan WGM menjadi salah satu upaya menangani sungai Bengawan Solo yang menjadi sumber banjir saat musim hujan, sedangkan saat musim kemarau airnya tidak mencukupi untuk irigasi dan air bersih.
Tokoh masyarakat di Kelurahan Wuryantoro, Suparso mengatakan, warga kampung tersebut pindah ke Jambi. Sementara makam-makam dipindah di daerah Balat Kantor Kelurahan Wuryantoro.
"Nisannya (yang lama) dibuang, di sana (makam yang baru) dibuat nisan yang baru yang lebih bagus. Termasuk Eyang Raden Santri yang kerangkanya juga dipindah. Kalau makam yang itu (di WGM) sudah suwung (kosong), sudah dipindah semua," pungkasnya.