"Ketika harga beras melambung bahkan di provinsi yang menjadi sentra produksi utama, itu merupakan sinyal kuat adanya tekanan biaya yang belum terurai secara tuntas, mulai dari tingkat gabah, penggilingan, hingga margin pedagang eceran," kata dia.

Menurut NEXT Indonesia Center, analisis mendalam terhadap rantai pasok menunjukkan bahwa kenaikan harga di tingkat konsumen dipicu oleh lonjakan biaya produksi sejak dari hulu.

Di Sumatra Selatan misalnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mencatat harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani menembus Rp7.700 per kilogram, berada jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Kondisi ini berimbas langsung pada naiknya biaya modal penggilingan dan pedagang pasokan.

Selain tingginya harga bahan baku di tingkat petani, kenaikan biaya operasional pendukung seperti biaya bahan bakar minyak, penggilingan, dan distribusi mendorong kenaikan harga.

Sandy mencatat bahwa rantai distribusi yang masih sangat panjang dari rantai pengepul hingga ke ritel modern menyebabkan margin harga makin membengkak.

Akibatnya, kata dia, para pelaku usaha ritel maupun pedagang pasar tradisional menghadapi dilema berat karena tidak mampu menjual beras sesuai batas HET tanpa menanggung kerugian.

Selain persoalan pada sektor beras konsumsi masyarakat, laporan terbaru NEXT Indonesia Center juga membedah anomali yang terjadi pada pasar beras pecah (broken rice).

Secara aturan dan tingkat kualitasnya, beras dengan persentase butir patah tinggi dijual dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang varian medium apalagi premium.