Menurut Sudiantowi Limanauw selaku Founder NSL, jumlah kota yang bertambah di tahun keempat menjadi tonggak penting bagi NSL. Jika pada edisi pertama kompetisi masih berfokus di Surabaya dan Jawa Timur, dalam tiga musim berikutnya NSL mulai memperluas jaringan, meningkatkan jumlah peserta, hingga menghadirkan sistem prioritas bagi tim yang konsisten mengikuti liga.
"Dari lima kota penyelenggaraan, NSL 2026 melibatkan lebih dari 500 sekolah, 750 tim, dan lebih dari 8.000 peserta," kata Sudiantowi dalam rilis kepada NadiKabar.
Pertumbuhan ini sekaligus menunjukkan bagaimana kompetisi basket pelajar dapat berkembang ketika dibangun secara konsisten dan melibatkan ekosistem yang lebih luas - mulai dari sekolah, pemain, pelatih, orang tua, komunitas, pemerintah daerah, hingga brand yang memiliki perhatian terhadap perkembangan generasi muda.
Sejak awal, NSL tidak dirancang hanya sebagai turnamen untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Liga ini dibangun untuk menyediakan jalur kompetisi yang terstruktur bagi pemain usia pelajar, mulai dari SD, SMP hingga SMA, sekaligus menjadi ruang untuk membangun keterampilan dan karakter.