Ada sejumlah tantangan yang membuat tradisi nyantri makin jarang dijalankan generasi sekarang. Modernisasi dan masuknya budaya luar membuat sebagian masyarakat mulai menganggap tradisi ini kurang relevan dengan gaya hidup masa kini.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah urbanisasi dan migrasi penduduk. Banyak generasi muda yang merantau ke kota besar dan lebih memilih pernikahan yang praktis serta efisien dibanding menjalani rangkaian prosesi adat yang memakan waktu cukup lama.

Ada pula pergeseran pandangan terkait peran dan kesetaraan gender di mana sebagian pihak menganggap konsep tinggal sementara di rumah keluarga pasangan sudah tidak sejalan dengan nilai-nilai modern yang berkembang saat ini.

Faktor ekonomi juga menjadi kendala tersendiri. Sebab, tradisi ini membutuhkan biaya tambahan untuk keperluan hidup dan persiapan calon pengantin selama masa nyantri berlangsung, sehingga pada praktiknya tradisi ini cenderung lebih mudah dijalankan oleh keluarga dengan kondisi ekonomi yang lebih mapan.

Pelestarian tradisi nyantri tidak harus dilakukan secara kaku mengikuti pakem lama. Sejumlah langkah sederhana bisa dilakukan agar nilai-nilai di dalamnya tetap hidup meski bentuk pelaksanaannya menyesuaikan zaman, misalnya:

Dengan begitu, meski praktik nyantri di lapangan semakin jarang ditemui dalam bentuk aslinya, nilai-nilai luhur di baliknya tetap bisa diwariskan kepada generasi berikutnya dengan cara yang lebih relevan.

Demikian sekilas mengenai nyantri, tradisi pernikahan Jawa yang mulai jarang. Semoga menambah wawasan pembaca, ya!

Artikel ini ditulis oleh Ovilia Putri Ramadhani Mahasiswa Magang Pendidikan di NadiKabar.com