Dari sisi literasi, Edi menyoroti bahwa indeks literasi dan inklusi keuangan untuk kelompok usia 26 tahun sampai 35 tahun menempati posisi tertinggi, yaitu masing-masing 78,70 persen dan 96,27 persen, menurut data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
Namun demikian, kondisi tersebut menunjukkan bahwa indeks literasi dan inklusi masyarakat di pasar modal Indonesia relatif belum tinggi, yang masing-masing mencapai 17,78 persen dan 1,34 persen.
Edi menilai pertumbuhan jumlah investor tersebut seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas pemahaman investor terhadap keuangan dan literasinya, yang mana hingga saat ini, OJK terus melakukan sosialisasi terpadu kepada investor pasar modal di beberapa daerah.
“Kami ada sosialisasi terpadu, memang untuk beberapa tempat yang jauh dari pusat kegiatan di bidang pasar modal, khususnya mungkin pemahamannya masih belum komprehensif, walaupun sudah melakukan investasi, terutama terkait produk baru itu masih perlu ditingkatkan,” ujar Edi.