NADIKABAR.COM β€” Perusahaan riset dan pengembangan kecerdasan buatan OpenAI mengutamakan aspek keamanan dalam mengembangkan model-model kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI) seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko yang dapat ditimbulkan oleh teknologi tersebut.

Sejumlah pemimpin perusahaan teknologi global telah menyampaikan perlunya memperlambat pengembangan AI karena peningkatan risikonya dinilai mengkhawatirkan.

Head of Policy Southeast Asia OpenAI Sandy Kunvatanagarn dalam acara diskusi di Jakarta, Rabu​​​​, menyampaikan bahwa OpenAI menerapkan pendekatan keamanan berlapis dalam mengembangkan model AI, dan terus menyempurnakannya seiring dengan perkembangan kemampuan AI.​​​

"Aspek keamanan dibangun dalam setiap tahapan, mulai dari bagaimana kami melatih model AI, tahap pasca-pelatihan, hingga mengembangkan berbagai perlengkapan dan produk yang dibangun di atas model tersebut," katanya.​​​​​​​

OpenAI juga menyampaikan laporan dan membuka informasi untuk membantu para peneliti serta institusi lain memahami kemampuan serta keterbatasan model AI yang dikembangkan.

Selain itu, perusahaan menjadikan masukan dari masyarakat sebagai pendukung dalam proses evaluasi dan pengembangan AI.

​​​​​​​Sebagai contoh, perusahaan menggunakan masukan dari komunitas untuk menyempurnakan aspek keamanan saat mengembangkan produk yang ditujukan bagi anak-anak dan remaja.​​​​​​​

Sandy mengatakan bahwa interaksi dengan komunitas, termasuk komunitas orang tua, dapat memberikan gambaran mengenai kekhawatiran masyarakat terhadap penggunaan AI.

"Semua itu untuk mengatakan bahwa kemampuan model-model (AI) ini meningkat sangat cepat, dan kami secara real time menyempurnakan pendekatan keamanan kami," ujarnya.