Berdasarkan informasi warga, kebakaran terjadi di sejumlah titik di sekitar lokasi kemunculan kedua orang utan tersebut. Bahkan, sebagian kebun karet milik warga ikut terdampak.
Kebun yang masih bertahan diduga menjadi salah satu tempat berlindung bagi satwa liar yang berusaha mencari kawasan lebih aman. Warga setempat juga harus berjaga di kebun untuk melindungi tanaman karet mereka dari ancaman api.
"Di tengah situasi tersebut, kemunculan Gadis dan Garis memperlihatkan bagaimana kebakaran dapat mempersempit ruang hidup satwa liar sekaligus meningkatkan risiko perjumpaan dengan manusia," ujarnya.
Penyelamatan ini melibatkan BKSDA Kalimantan Tengah Seksi KSDA Wilayah II, OFI, aktivis lingkungan Sampit, serta bantuan anggota Polda Kalimantan Tengah dan Polres Kotim. Proses tersebut juga disaksikan Direktur Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam Polri, Brigjen Pol Tory Kristianto.
Setelah proses evakuasi dan penanganan medis selesai dilakukan, tim meninggalkan lokasi sekitar pukul 03.00 WIB untuk kembali ke Pangkalan Bun.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelamatan ini. Kami mengimbau kepada masyarakat agar segera melapor apabila menemukan satwa liar dilindungi, seperti orang utan atau beruang madu. Jangan mencoba menangkap atau menangani satwa tersebut karena tindakan itu berbahaya," kata dia.