Keesokan harinya, Kamis (3/9), keluhan tersebut belum reda. Sehingga pelajar asal Desa Sukodadi itu harus dilarikan ke Puskesmas Kabuh untuk dirawat inap. Maka, Reni berharap MBG disetop selamanya untuk meniadakan risiko kesehatan yang sama.
"Kalau menurut saya ya mending (MBG) disetop sajalah, lebih baik itu aja, sudah enggak ada risiko, karena sudah trauma," tegasnya.
Aisyah juga menceritakan pengalaman pahitnya keracunan MBG yang ia makan pada Rabu (2/9) siang. Ia mulai merasakan sakit perut sampai diare sekitar pukul 23.00 WIB. Keesokan harinya, ia memaksakan diri tetap masuk sekolah.
Di tengah olahraga voli di sekolah, perutnya kembali sakit sampai ia muntah. Sehingga dalam kondisi lemas, Aisyah dilarikan ke Puskesmas Kabuh untuk dirawat inap. Kini, ia bersyukur kondisinya sudah membaik karena tak lagi mual, muntah maupun diare.
Pengalaman pahit itu pun menyisakan trauma bagi Aisyah. Sampai ia menolak makan MBG. "Masih trauma, (kalau diberi MBG) Tidak dimakan," tandasnya.