"Dulunya hanya 19, sekarang ditambah dengan hospital-based dan ada institusi pendidikan bedah yang baru," ujarnya.

Namun, Heri mengatakan persebaran dokter bedah di Indonesia masih menjadi tantangan karena belum merata, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Ini memang sudah diatasi oleh Kementerian Kesehatan melalui kerja sama juga dengan Kolegium Bedah dan PABI, cuma ada beberapa daerah yang memang (dokter bedah) tidak bisa menetap di situ," katanya.

Pemerataan dokter bedah tetap diperlukan agar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia dapat memperoleh layanan bedah, termasuk ketika terjadi bencana.