"Kegiatan MURI yang kami laksanakan ini bisa dikatakan pertama kali di dunia, bukan hanya di Indonesia. Kami memaksimalkan 600 lemparan menancap di target putih. Ini menjadi bukti simbolis betapa masifnya perkembangan olahraga ini di tanah air," kata Hendri dalam keterangan kepada NadiKabar.
Dalam proses penilaian rekor, PABKI bersama tim MURI menerapkan pengawasan ketat untuk memastikan setiap lemparan yang sah tercatat. Setiap pisau yang berhasil menancap di papan sasaran dihitung sebagai satu poin.
Bahkan, pisau yang sempat menancap kemudian terjatuh akibat tertimpa lemparan berikutnya tetap dinyatakan sah. Penghitungan tersebut dilakukan berdasarkan pengawasan asisten juri yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan papan sasaran.
Usai pemecahan rekor, kegiatan dilanjutkan dengan Kejurnas Lempar Pisau dan Kapak yang berlangsung selama dua hari. Sebanyak 12 kelas dipertandingkan untuk memperebutkan total 72 gelar juara.
Kejurnas tersebut menggunakan sistem open tournament. Sekitar 85 hingga 90 persen peserta merupakan anggota resmi PABKI, sedangkan sisanya berasal dari pelempar umum nonanggota.