NADIKABAR.COM — Fenomena El Nino tahun ini akan memperburuk persoalan ekonomi di Amerika Latin dan Karibia, terutama akibat gangguan curah hujan dan kenaikan suhu, demikian disampaikan seorang klimatolog asal Chile dalam wawancara baru-baru ini dengan Xinhua.

Patricio Gonzalez Colville, peneliti di Pusat Penelitian dan Transfer Irigasi dan Agroklimatologi Universitas Talca di Chile, mengatakan bahwa dampak ekonomi El Nino terutama akan dirasakan di sektor pertanian. "Fenomena El Nino berdampak terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dampak utamanya adalah mengubah secara drastis curah hujan, yang menyebabkan banjir atau kekeringan, dan suhu, yang memicu gelombang panas ekstrem dengan suhu maksimum melampaui 38 derajat Celsius selama beberapa hari," kata Gonzalez. Budi daya buah-buahan dan tanaman serealia membutuhkan kondisi cuaca yang sedang. "Akibatnya, dampak utamanya dirasakan melalui kerugian di sektor pertanian, yang memengaruhi pertanian keluarga dan akses terhadap air," ujar Gonzalez. "Banyak masyarakat akan mengalami penurunan hasil tanaman pangan, sementara pasar akan menaikkan harga kebutuhan pokok akibat kelangkaan. Tingkat kemiskinan akan meningkat karena mereka tidak dapat menjual kelebihan hasil panen dan menghadapi keterbatasan akses terhadap air irigasi," tuturnya. Gonzalez juga memperingatkan angka pengangguran dapat meningkat karena masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian mungkin terpaksa mengurangi tenaga kerja di tengah meningkatnya ketidakpastian dan kerentanan akibat perubahan iklim. Pemanasan yang disebabkan oleh El Nino saat ini dikategorikan sebagai "kuat" dari segi intensitas dan diperkirakan berkembang menjadi fenomena "luar biasa" antara November 2026 hingga Januari 2027, tambah Gonzalez. Amerika Tengah menghadapi prospek kondisi iklim yang "sulit" seiring berkembangnya El Nino 2026, terutama di wilayah yang disebut "koridor kering", yakni jalur luas yang membentang dari Meksiko selatan, Guatemala, El Salvador, Honduras, Nikaragua, hingga sebagian Kosta Rika. "El Nino menyebabkan kekeringan ekstrem di wilayah geografis ini. Diperkirakan 11 juta orang yang hampir sepenuhnya bergantung pada pertanian keluarga, dengan menanam tanaman seperti jagung dan kacang-kacangan, akan menghadapi keterbatasan akses terhadap air. Oleh karena itu, fenomena El Nino dengan skala yang luar biasa besar ini berisiko memperburuk krisis pangan di kawasan tersebut," paparnya. Sekitar 43 juta orang di Amerika Latin dan Karibia mengalami kekurangan gizi, dan dampak fenomena ini dapat memperburuk situasi tersebut di negara-negara seperti Kolombia, yang perekonomian sektor pertaniannya terdampak oleh gelombang panas dan kekeringan ekstrem, imbuhnya. "Situasi yang paling parah dapat terjadi di Brasil, ketika kekeringan dan kelangkaan air di Amazon, yang disebut sebagai 'paru-paru planet ini', dapat memicu kebakaran hutan yang tak terkendali," kata Gonzalez. "Analisis terhadap fenomena El Nino pada masa lalu menunjukkan bahwa negara-negara Amerika Latin cenderung menanggung dampak paling berat. Perekonomian mereka sangat bergantung pada ekspor hasil pertanian," ujarnya.