NADIKABAR.COM — Dosen Institut Kesenian Jakarta Hilmar Farid mendorong pengembalian warisan budaya disertai dengan narasi yang sesuai dengan fakta sejarah.
"Pengembalian warisan budaya tidak cukup hanya dengan mengembalikan benda ke negara asal tapi juga disertai perbaikan cara bercerita berbasis fakta sejarah dan tata kelola setelah benda itu kembali," kata Hilman Farid di kota Xiamen, provinsi Fujian, China dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Beijing, Rabu.
Hilman yang juga mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Indonesia itu menyampaikan hal tersebut dalam forum "The 1st International Forum on Artistic, Cultural and Memorial Heritage" di Universias Xiamen pada 18-20 September 2026.
Forum itu diselenggarakan Universitas Xiamen bersama Universitas Indonesia, University of Hamburg dan Berlin-Brandenburg Academy of Sciences and Humanities yang menghadirkan 30 orang akademisi dari negara-negara Asia dan Eropa.
Forum tersebut menyoroti tiga isu utama yaitu pertama, pencurian dan apropriasi (tindakan mengambil, meminjam, atau menggunakan sesuatu benda, ide, budaya, atau karya untuk tujuan tertentu, sering tanpa izin atau tanpa hak) budaya di Asia dan Eropa; warisan seni, budaya, dan memori sebagai objek, ruang, dan budaya memori; serta perlindungan warisan dalam perspektif lokal dan global.