NADIKABAR.COM — Di tengah ketidakpastian geopolitik, krisis ekologis, dan percepatan transformasi digital global, kepemimpinan tidak lagi cukup dijalankan secara prosedural atau sekadar mengandalkan intuisi jangka pendek.

Indonesia membutuhkan arsitektur kepemimpinan nasional dan sektoral yang adaptif, berakar pada ketahanan nasional, serta mampu mengubah potensi bangsa menjadi kekuatan riil.

Buku Kepemimpinan Strategis karya Prof Purnomo Yusgiantoro yang terbit pada Juni 2026 hadir sebagai panduan fundamental untuk menjawab tantangan tersebut.

Sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi yang pernah memimpin berbagai kementerian strategis dan lembaga kajian nasional, Prof Purnomo menyajikan sintesis komprehensif antara teori kepemimpinan formal, dinamika ketahanan nasional, dan kebijakan publik.

Namun, untuk memahami daya jangkau gagasan ini secara utuh, resensi ini dilakukan dengan perspektif pemikiran dari Buku karya Zulfikar M Rachman dan Ahmad Mukhlis Yusuf (September, 2026), The Art of Heroic Leadership yang diterbitkan oleh IPB Press.

Dalam buku Kepemimpinan Strategis, Prof Purnomo menegaskan bahwa seorang pemimpin strategis harus memiliki tiga pilar utama yaitu keterampilan visioner, kemampuan eksekusi institusional, dan pemahaman komprehensif atas dinamika geopolitik serta geostrategi.

Kepemimpinan tidak dipandang sebagai instrumen kekuasaan personal, melainkan kapasitas untuk menyelaraskan berbagai elemen bangsa, baik berupa sumber daya alam, tata kelola pemerintahan, hingga potensi sumber daya manusia, demi menjaga kedaulatan dan keberlanjutan nasional.

Purnomo menekankan pentingnya pembuatan keputusan berbasis data (evidence-based decision making) serta penguatan kelembagaan. Pemimpin strategis dituntut mampu mengantisipasi skenario masa depan, mengelola risiko sistemik, dan mengoordinasikan berbagai sektor yang sering kali bekerja dalam sekat-sekat (silos).

Perspektif The Art of Heroic Leadership