Kasus kematian langsung, berisiko tinggi terjadi di kolam budi daya ikan. Terutama jika kolam tersebut kecil, dangkal, padat ikan, dan memiliki sistem pergantian air yang terbatas.

"Penurunan oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), perubahan pH secara mendadak, hingga penyumbatan aerator dan pompa dapat memperparah kondisi," tegasnya.

Untuk menghindari berbagai dampak dari abu vulkanik pada air, Etty menyarankan agar sumur, bak, tandon, dan wadah penyimpanan air ditutup dengan rapat. Ketika hujan pertama turun, sebaiknya air tersebut tidak ditampung dan membersihkan talang dan atap rumah.

"Masyarakat sebaiknya tidak membuang abu ke selokan, sungai, dan kolam. Untuk minum dan memasak, sebaiknya menggunakan air kemasan atau pasokan resmi," saran Etty.

Sedangkan untuk pembudi daya ikan, Etty merekomendasikan agar kolam ditutup dengan terpal. Akan tetapi, terpal perlu dimodifikasi agar tidak menghambat pertukaran udara, aerasi ditingkatkan, serta DO, pH, kekeruhan, suhu, dan perilaku ikan dipantau secara berkala.

"Jika ikan megap-megap atau kehilangan keseimbangan, segera lakukan langkah penyelamatan dan gunakan air pengganti yang telah dipastikan aman," imbuhnya.