NADIKABAR.COM — Berbagai inovasi di bidang kesehatan yang dilakukan oleh kandidat Inovator Teknologi Kesehatan DPD RI Awards 2026. Mereka menciptakan alat deteksi dini untuk kanker serviks hingga melakukan riset untuk bahan baku obat.

Sepuluh kandidat ini telah dipilih oleh panitia DPD RI Awards 2026. Proses penyaringan dimulai dari seleksi administrasi terhadap seribuan kandidat yang mendaftar.

Panitia lalu menentukan 50 besar kandidat sebelum akhirnya menyaring kembali hingga terpilih 10 besar kandidat di masing-masing kategori. Pada kategori bidang kesehatan ini, penghargaan akan diberikan kepada individu hingga profesional yang menjadi inovator teknologi kesehatan.

"Diberikan kepada individu, profesional atau akademisi yang menghasilkan inovasi di bidang kesehatan melalui riset klinis maupun laboratorium, termasuk penemuan obat, terapi, atau alat kesehatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat," tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat NadiKabar, Rabu (7/10/2026).

Berikut nama-nama 10 kandidat Inovator Teknologi Kesehatan DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:

Amal Rezka Putra mengembangkan berbagai radiofarmaka, yaitu obat yang menggunakan zat radioaktif untuk membantu dokter mendeteksi dan menangani penyakit, khususnya tuberkulosis (TB) dan kanker. Amal adalah kandidat dari Jawa Barat.

Inovasinya mencakup Kit Etambutol untuk membantu menemukan lokasi infeksi TB, termasuk TB di luar paru. Inovasi Samarium-153 EDTMP untuk membantu mengurangi nyeri pada pasien kanker yang telah menyebar ke tulang. Inovasi Iodium-131 MIBG untuk membantu diagnosis dan terapi kanker neuroblastoma pada anak.

Selain itu, Amal Rezka juga mengembangkan mikrosfer Samarium-153 dan Holmium-166 sebagai kandidat terapi kanker hati.

Berbagai inovasi itu dikembangkan dari tahap penelitian hingga hilirisasi dengan beberapa produk telah memperoleh izin edar BPOM dan digunakan dalam pelayanan kedokteran nuklir di sejumlah rumah sakit.

Aslis Wirda Hayati adalah kandidat dari Riau. Dia mengembangkan inovasi di bidang kesehatan dan gizi yang berfokus pada pencegahan stunting serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pola makan bergizi. Inovasinya mencakup metode deteksi dini pertumbuhan linier anak balita dan edukasi gizi bagi remaja dengan memanfaatkan makanan khas daerah.

Dia mengembangkan metode dan alat rapid diagnostik pertumbuhan linier anak balita dengan memanfaatkan Pyridinium Crosslinks (Pyd) dalam urin sebagai biomarker pertumbuhan tulang. Metode ini dikembangkan sebagai alternatif pengukuran pertumbuhan yang lebih meyakinkan dan tidak menyakitkan bagi anak.

Selama ini pertumbuhan linier anak umumnya dipantau melalui pengukuran tinggi badan, tapi pengukuran tinggi badan dapat dipengaruhi oleh ketepatan alat, teknik pengukuran, dan kemampuan petugas. Sementara pemeriksaan pertumbuhan tulang melalui radiologi maupun pengambilan darah memiliki keterbatasan karena paparan radiasi atau tindakan yang dapat menimbulkan rasa sakit.

Penggunaan urin sebagai bahan pemeriksaan menawarkan pendekatan yang tidak invasif untuk mendukung deteksi gangguan pertumbuhan sejak dini. Dampaknya, sejak tahun 2023 inovasi ini telah menjangkau sekitar 1.065 anak balita di 11 desa.

Eka Lestari Mahyuni membuat hand soap gel dari ekstrak acem-acem. Kandidat asal Sumatera Utara itu memanfaatkan kandungan saponin serta potensi antimikroba dan antijamur dari tanaman acem-acem tersebut.