NADIKABAR.COM — Para pemimpin negara kepulauan Pasifik menyoroti ancaman iklim dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, Jumat (25/9).

Perdana Menteri Tuvalu, Feleti Teo, menyatakan bahwa kenaikan permukaan laut bukanlah "ancaman masa depan" melainkan "kenyataan saat ini" bagi negaranya.

"Perubahan iklim merupakan ancaman eksistensial terbesar bagi kelangsungan hidup, keamanan, dan pembangunan berkelanjutan Tuvalu," tambahnya.

Dia juga menyebutkan bahwa sebuah proyek adaptasi pesisir telah berhasil mereklamasi lahan seluas 15,3 hektare yang ditinggikan permukaannya di ibu kota Funafuti, dan saat ini reklamasi seluas 10 hektare lainnya sedang berlangsung.

Teo mengatakan bahwa pendanaan iklim harus diberikan dalam bentuk "hibah dengan skala yang memadai untuk mengatasi dampak iklim yang tak terelakkan serta meningkatnya kerugian dan kerusakan akibat pemanasan global lebih lanjut,"

Dia mendesak percepatan kemajuan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 14 mengenai ekosistem laut.

Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Jeremiah Manele, mengatakan bahwa negara kepulauannya tetap sangat rentan terhadap guncangan eksternal, di mana satu bencana alam saja mampu melenyapkan hasil pembangunan nasional yang telah dicapai selama bertahun-tahun.