NADIKABAR.COM — Nama Parama Hansa Abhipraya, atau yang akrab disapa Rama, kembali mengukir prestasi gemilang di dunia literasi anak Indonesia. Setelah sukses membawa pulang penghargaan Reader's Choice Award Karya Raya 2025 melalui bukunya How Big is God, ia kembali meraih penghargaan yang sama pada Karya Raya 2026 lewat karya terbarunya, I Can See God.
Pencapaian ini menjadikan Rama sebagai satu-satunya Young Author yang berhasil mempertahankan gelar Reader's Choice Award selama dua tahun berturut-turut. Kemenangan beruntun ini membuktikan bahwa karya yang lahir dari imajinasi murni seorang anak mampu menyentuh hati para pembaca.
Pada gelaran Karya Raya 2025, How Big is God unggul di antara 1.870 buku karya anak dari berbagai daerah di Indonesia. Setahun berselang, I Can See God kembali mendapat sambutan hangat dari publik.
"Alhamdulillah trofi ini bukan sekadar bentuk kemenangan, melainkan bukti bahwa suara, imajinasi, dan sudut pandang anak-anak memiliki daya pikat yang luar biasa," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (5/10/2026).
Kiprah Rama di bidang literasi melengkapi deretan prestasi yang telah diraihnya. Pada April 2026, ia dianugerahi rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Anak Usia Dini dengan Prestasi Lintas Disiplin Terbanyak atas pencapaiannya di bidang matematika, olahraga, literasi, hingga budaya.
Pencapaian Rama hadir seiring bertumbuhnya gerakan Karya Raya. Pada edisi 2026, pameran yang berlangsung di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki (11 September-2 Oktober 2026) ini menampilkan 2.053 buku anak. Angka tersebut melonjak signifikan jika dibandingkan dengan edisi awal pada 2023 yang mencatatkan 638 karya, 1.081 karya pada 2024, dan 1.870 karya pada 2025.
Mengusung tema Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You, Karya Raya 2026 tak hanya mengajak anak untuk menulis dan menggambar, tetapi juga mempresentasikan serta memamerkan karyanya kepada publik.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menyambut positif inisiatif ini. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan pentingnya mendorong anak-anak agar tumbuh sebagai pencipta karya, bukan sekadar konsumen.
"Dari kebiasaan menulis, menggambar, bercerita, dan berbagi gagasan sejak kecil, kita sedang membangun fondasi generasi kreatif Indonesia yang nantinya mampu menciptakan karya untuk Indonesia bahkan bagi dunia," ujarnya.
Co-Founder Karya Raya dan Bookabook, Ernest Junius Wiyanto, menilai bahwa apresiasi atas karya anak membawa dampak psikologis yang mendalam bagi tumbuh kembang mereka.
"Ketika coretan itu dihargai orang lain, anak mulai melihat dirinya sebagai pelukis. Ketika seorang anak menulis dan tulisannya menyentuh orang lain, anak itu melihat dirinya sebagai seorang penulis," ujarnya.
Ernest juga menyoroti keunikan gaya penulisan Rama yang membuat bukunya mudah memikat perhatian pembaca. Menurutnya, Karya Raya menekankan nilai autentisitas, orisinalitas, dan keberanian bereksplorasi. Penghargaan sendiri diposisikan sebagai bonus dari proses panjang bertumbuhnya seorang anak.