NADIKABAR.COM — Kanye West membuktikan bahwa baginya, konser adalah sepenuhnya pertunjukan musik, bukan ajang basa-basi.
Dalam konser Ye Live Concert Tour yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta pada 24 Oktober 2026, Kanye yang sambil berdiri di atas 'dunia' mewujudkan kerinduan penggemar karya-karyanya.
Konser itu terbilang spesial bagi penggemar musik Kanye West dan musik hip-hop. Konser itu adalah satu-satunya di Asia-Pasifik, dan digelar sebagai bagian dari tur perdana dalam 10 tahun terakhir.
Selama 10 tahun tanpa tur dan jumpa penggemar, hidup Kanye West memang penuh dinamika, sorotan, yang membuat berbagai negara memboikot musisi tersebut.
Namun itu jadi peluang dan rezeki buat Indonesia yang tampak tidak bermasalah dengan segala kontroversinya. Kanye untuk pertama kalinya datang ke Jakarta, melewatkan kota 'favorit' tur dunia seperti Singapura, Bangkok, atau pun Kaohsiung.
SUGBK pun menjadi arena yang mewujudkan gagasan Bhinneka Tunggal Ika. Penggemar Kanye dari berbagai negara, bangsa, warna kulit, bersatu di bawah 'komando' Ye yang membawakan 37 lagu dalam penampilan berdurasi 2 jam, termasuk berbagai hit ternama seperti Stronger, Flashing Lights, dan Famous.
Sebelum lampu meredup dan pertunjukan dimulai, para penggemar dengan antusias menyerukan nama "Yeezy" sebagai bentuk dukungan. Konser dibuka dengan medley Dark Fantasy dan Waves.
Kapasitas SUGBK yang tak penuh terisi sebenarnya jadi keuntungan bagi penggemar. Ruang untuk mengekspresikan diri menjadi lebih luas. Bahkan sebagian dari penggemar bebas melakukan mosh pit sesuka hati.
Aksi mosh pit jelas tak bisa dilewatkan, apalagi diiringi musik favorit dan sajian visual ikonis yang jadi sorotan paling tak terlupakan dalam acara ini.
Sejumlah sajian visual itu berupa permainan cahaya laser bentuk burung pemakan bangkai yang merujuk album Vultures (2024), serta pertunjukan kembang api yang tersinkronikasi sejak awal.
Namun yang paling ikonis adalah instalasi separuh bola dunia yang menjadi tempat Ye berdiri sebagian besar durasi konser. Ia bagai pemimpin para penggemarnya yang hanyut dalam lantunan musik sang rapper.
Bola dunia itu berdiri menjulang tinggi di tengah lapangan, dikelilingi kerumunan penggemar di area festival, memastikan Ye tetap terlihat 360 derajat dari mana pun penggemarnya melihat.
Pujian patut diberikan kepada pihak promotor yang telah menciptakan pertunjukan ini. Aspek keamanan, pengendalian massa, serta ketersediaan makanan dan minuman dikelola dengan baik dan terencana.
Inisiatif mendukung UMKM lokal sekaligus mempromosikan Jakarta sebagai destinasi hiburan internasional terlaksana dengan sukses. Konsep ini layak mendapatkan apresiasi karena berhasil menjadi blueprint yang patut dicontoh.
Sayangnya, dari perspektif penonton festival, tampak terjadi gangguan teknis saat lagu Heartless dibawakan. Kualitas suaranya terdengar teredam, dan seolah ada jeda antara vokal dengan iringan musiknya.
Sesuai dengan gaya khasnya, Kanye melakukan apa pun yang ia inginkan. Sang artis sama sekali tidak berinteraksi secara verbal dengan penonton. Tidak ada sapaan pembuka maupun penutup, yang sebenarnya agak disayangkan.
Kanye West hanya berinteraksi dengan penonton dengan cara memimpin nyanyian bersama dan meminta penonton untuk menyanyi kembali.
Selain itu, penutup konser juga terbilang kurang memuaskan. Kanye selaku pemimpin konser tak memberikan kode apa pun, baik verbal mau pun nonverbal, bahwa konser akan berakhir.
Apalagi elemen produksi lainnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda pertunjukan telah usai seperti kembang api yang terlihat gagal meledak, maka momen "that's it?" jelas tak terhindarkan. Hal ini sangat disayangkan, mengingat penampilan lainnya sebenarnya sudah sangat prima.
Yang jelas, sebelum akhir yang "terjadi begitu saja" itu, Kanye West masih mau membawakan lagu ikonis Runaway. Ia memainkan sendiri melodi piano yang sangat dikenal dari lagu tersebut secara langsung.
Terlepas dari cliffhanger ending itu, Kanye West is just being Kanye West.