NADIKABAR.COM — Bangsa (NadiKabar) - Para pekerja kemanusiaan PBB pada Kamis (8/10) memperingatkan dampak kekerasan yang masih berlangsung di Sudan terhadap warga sipil, yang juga menghadapi kelaparan kian parah serta guncangan iklim akibat fenomena El Nino.
Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA) menyebutkan bahwa sumber-sumber lokal melaporkan empat orang tewas pada Rabu (7/10) dalam sebuah serangan drone di Ed Damazine, ibu kota Negara Bagian Nil Biru. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Selasa (6/10) mengatakan lebih dari 1.200 orang mengungsi dari sejumlah desa di wilayah Wad Al Mahi di negara bagian tersebut, menyusul gelombang pengungsian sebelumnya.
Sejak akhir September, lebih dari 12.400 orang dilaporkan telah mengungsi. Menurut UN OCHA, para pekerja kemanusiaan sedang meningkatkan operasinya di Nil Biru.
Sejak awal September, salah satu mitra kemanusiaan telah membangun 150 jamban darurat dan mendistribusikan perlengkapan kebersihan pribadi kepada lebih dari 4.000 orang di lokasi pengungsian Al Karama.
Selama sepekan terakhir, mitra lainnya telah menyalurkan obat-obatan penting ke 50 fasilitas kesehatan di seluruh Ed Damazine dan wilayah Baw. Di Negara Bagian Darfur Timur, UN OCHA mengatakan para mitra kemanusiaannya melaporkan bahwa lebih dari 22.000 orang, termasuk pengungsi dan orang-orang yang mengungsi di dalam negeri, menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang sangat mendesak di desa Um Abariq, Um Ghubaisah, dan Um Eid. Kantor tersebut menuturkan para mitranya memperingatkan bahwa curah hujan musiman yang tidak memadai akibat fenomena El Nino telah menurunkan produksi pertanian, dengan kurang dari seperempat lahan pertanian dilaporkan menghasilkan panen. Penilaian mereka juga menemukan kelangkaan obat-obatan, sementara gangguan di bidang pendidikan kian menambah kekhawatiran mengenai keselamatan dan kesejahteraan anak-anak.
UN OCHA menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, serta pendanaan tambahan, agar PBB dan para mitranya dapat meningkatkan bantuan penyelamatan nyawa bagi masyarakat yang membutuhkan. Kurang dari tiga bulan menjelang akhir tahun, rencana respons untuk Sudan, yang membutuhkan dana sebesar 3 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.890), baru terpenuhi sebanyak 43 persen, kata kantor tersebut.