"Sangat, sangat sangat sulit. Dengan kondisi ekonomi sekarang sangat sulit untuk nge-branding nama pun juga sangat sulit. Meskipun barangnya kita bagus, kalau namanya masih mulai dari nol itu kan lebih susah. Sedangkan nama Pasar Taman Puring itu sudah dari dari dulu, sudah legend-nya sudah dari dulu," ungkap Asmun.

"Jadi branding untuk Pasar Taman Puring itu orang kalau sudah mendengar nama Pasar Taman Puring pasti ingat barang kita, sudah. Sedangkan ini kalau dimulai dari nol, Taman Puring enggak ada, nama Taman Puring tidak ada, agak berat di pedagang untuk kita dagang kan butuh pembeli," lanjut dia.

Asmun menyebut para pedagang masih memegang janji terkait rencana revitalisasi pasar. "Kita menyampaikan kan bahwa kita masih menunggu revitalisasi apa yang dijanjikan Pak Gubernur," ucap Asmun.

Asmun juga menyayangkan adanya pernyataan yang menyebut lokasi pasar bekas kebakaran akan dialihfungsikan menjadi taman. Dia menilai wacana itu muncul tiba-tiba.

"Karena belum ada rencana dari awal sebelum kebakaran. Waktu itu saya menyampaikan ke Pak Wali juga tidak ada sosialisasi, tidak ada informasi tentang apapun masa depan Taman Puring sebelum kebakaran," jelas Asmun.

"Tiba-tiba setelah barang kita habis, barang kita total habis kebakaran, tiba-tiba ada statement seperti yang diberitakan bahwa Taman Puring akan dijadikan taman. Itu sangat sangat sangat sangat sakit buat para pedagang mendengar statement itu. Karena kita barang habis, Kak. Kita korban kebakaran, bukan korban penggusuran ya. Kita korban kebakaran," sambungnya.

Hingga saat ini, kata Asmun, belum ada pemberitahuan resmi dari pihak Pemkot Jakarta Selatan mengenai rencana relokasi ke Lenteng Agung. Meski begitu dia berharap Pasat Taman Puring tetal direvitalisasi.